Selamat Datang di Website Gerakan Mahasiswa Pemuda Indonesia (GMPI) Korda Sulawesi Utara
 

Minggu, Mei 15, 2011

Relevansi Trisakti Kemerdekaan

0 komentar
NEGARA KEBANGSAAN DI TENGAH PUSARAN GLOBALISASI:
RELEVANSI TRISAKSI KEMERDEKAAN

Tantangan Kekinian Negara Kebangsaan

Dewasa ini negara kebangsaan Indonesia menghadapi kompleksitas masalah yang demikian besar. Globalisasi yang ditandai dengan maju pesatnya teknologi informasi dan komunikasi membawa pengaruh yang tidak terhindarkan bagi semua negara di dunia. Dunia telah menyempit menjadi desa kecil dimana kejadian di satu belahan dunia dapat diketahui saat itu juga di belahan dunia lainnya. Penyempitan ruang dan waktu dalam globalisasi dibarengi dengan nilai dan budaya ikutan yang saling berebut pengaruh dalam struktur masyarakat dunia.
Paska berakhirnya perang dingin pada 1989, rezim demokrasi liberal dianggap sebagai sistem pemerintahan yang paling ideal diterapkan negara-negara di dunia. Neoliberalisme dan pasar bebas sebagai sistem ekonomi didorong-terapkan keberbagai negara di dunia setelah sistem komunisme runtuh. Negara-negara maju dengan sangat keras mengarahkan dua agenda ini—demokrasi liberal dan neoliberalisme—menjadi sistem politik dan sistem ekonomi bagi negara-negara lainnya. Hegemoni, infiltrasi dan pemaksaan dilakukan melalui berbagai forum seperti WTO, PBB, IMF dan lain-lain, serta melalui berbagai bentuk, mulai dari yang soft seperti skema bantuan internasional, hingga yang hard seperti operasi penggulingan rezim yang sedang berkuasa. Bukan itu saja, gabungan demokrasi liberal dan neoliberalisme juga membawa gagasan untuk membatasi peran negara dalam kehidupan warganya. Dampak dari gagasan dan kebijakan di atas berimbas pula pada negara kebangsaan Indonesia. Indonesia telah lama dibuat terseok-seok dalam menjaga kedaulatan politik dan kemandirian ekonominya oleh negara-negara maju. Bentuk yang paling kongkrit adalah ditandatanganinya letter of intent antara pemerintah Indonesia dengan IMF yang bermakna menempatkan Indonesia sebagai pesakitan di hadapan lembaga internasional itu.
Di bidang budaya, konsumerisme, materialisme dan individualisme telah menjadi life style dalam globalisasi. Konsumerisme, materialisme dan individualisme dipromosikan dengan gencar melalui berbagai media seperti TV, film, novel, majalah, mode, fashion, dan sebagainya. Masyarakat Indonesia yang tumbuh dalam budaya komunalisme, voluntarisme dan gotong royong lambat laun mulai terkikis menjadi masyarakat yang mendasari pola hidupnya atas semangat untung rugi dan kalkulasi.
Tantangan kekinian negara kebangsaan Indonesia bukan hanya globalisasi, tetapi juga maraknya semangat lokalitas, etnisitas dan fundamentalisme sebagai bentuk perlawanan dari unilateralisme dan homogenisasi yang merupakan watak globalisasi. Isu pemisahan daerah dari NKRI, sentimen putra daerah dan konflik dengan membawa serta sentimen agama merupakan contoh mutakhir dari perkembangan ini. Sebagai bangsa yang majemuk, Indonesia dewasa ini oleh karenanya menghadapi tantangan dari dua arah sekaligus, globalisasi di satu sisi dan lokalitas, etnisitas dan fundamentalisme di sisi yang lain.
Relevansi Trisakti Kemerdekaan
Di tengah realita dunia yang mengglobal dan kompleksitas masalah di atas patut kiranya kita pertanyakan, dengan cara apa negara kebangsaan Indonesia mampu bertahan dan eksis?
Negara kebangsaan Indonesia didirikan dengan berfondasikan pada Pancasila sebagai weltanschauung. Dalam pidatonya yang terkenal pada 1 Juni 1945, Bung Karno menyatakan bahwa bangsa Indonesia dibentuk karena adanya kehendak dari beragam etnis, suku, agama dan budaya untuk bersatu menjadi sebuah bangsa. Nasionalisme Indonesia yang bersanding dengan internasionalisme atau peri kemanusiaan merupakan dua dasar dari lima dasar bagi negara kebangsaan Indonesia untuk berdiri tegak di tengah fenomena globalisasi dewasa ini. Negara kebangsaan Indonesia tetap penting untuk menjadi jembatan menuju keadilan sosial bagi seluruh rakyat dan untuk melindungi rakyat Indonesia yang mayoritas miskin dan bodoh dari berbagai bentuk kapitalisasi oleh negara-negara maju. Dasar nasionalisme yang tidak chauvanistik dan internasionalisme berdasarkan kesetaraan kemanusiaan sesungguhnya merupakan jawaban bagi negara kebangsaan Indonesia untuk mengambil peran dalam kancah dunia secara aktif dengan tanpa mengorbankan kepentingan nasionalnya.
Trisakti kemerdekaan, yaitu berdaulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi dan berkepribadian dalam budaya yang menjadi tema pokok seminar ini harus menjadi landasan bagi negara bangsa Indonesia untuk tetap bertahan dan eksis dalam era globalisasi ini. Di tengah desakan penyeragaman politik, ekonomi dan budaya, peneguhan sikap pemimpin dan rakyat Indonesia untuk membawa panji trisakti kemerdekaan merupakan sebuah kemestian.
Berdaulat dalam politik bermakna segala pengaturan peri kehidupan berbangsa dan bernegara harus didasarkan pada mandat rakyat. Kedaulatan politik dibangun dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, dan bukan diatur oleh pihak luar.
Kemandirian dalam ekonomi bermakna pengaturan peri kehidupan ekonomi harus didasarkan pada tujuan akhir mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Tanah, air dan kekayaan alam yang dimiliki Indonesia harus dimanfaatkan sepenuhnya bagi kemakmuran warga bangsa. Eksploitasi dan penguasaan sumber daya alam Indonesia oleh pihak asing secara besar-besaran dan serampangan harus dihentikan, namun kerja sama ekonomi dan investasi yang saling menguntungkan penting digiatkan. Ekonomi Indonesia harus berjalankan dengan didasarkan pada pemikiran dan kebijakan yang direncanakan oleh rakyat dan pemerintah sendiri, dan bukannya paket dari pihak luar sebagaimana terjadi saat ini.
Read more...

Pendudukan gedung DPR/MPR oleh mahasiswa

0 komentar

Pendudukan gedung DPR/MPR oleh mahasiswa

     Dalam keadaan yang mulai terkendali setelah mencekam selama beberapa hari sejak tertembaknya mahasiswa Trisakti dan terjadinya kerusuhan besar di Indonesia, tanggal 18 Mei 1998 hari Senin siang, ribuan mahasiswa berkumpul di depan gedung DPR/MPR dan dihadang oleh tentara yang bersenjata lengkap, bukan lagi aparat kepolisian. Tuntutan mereka yang utama adalah pengusutan penembakan mahasiswa Trisakti, penolakan terhadap penunjukan Soeharto sebagai Presiden kembali, pembubaran DPR/MPR 1998, pembentukan pemerintahan baru, dan pemulihan ekonomi secepatnya. 

          Kedatangan ribuan mahasiwa ke gedung DPR/MPR saat itu begitu menegangkan dan nyaris terjadi insiden. Suatu saat tentara yang berada di depan gedung atas tangga sempat mengokang senjata mereka sehingga membuat panik para wartawan yang segera menyingkir dari arena demonstrasi. Mahasiswa ternyata tidak panik dan tidak terpancing untuk melarikan diri sehingga tentara tidak dapat memukul mundur mahasiswa dari gedung DPR/MPR. Akhirnya mahasiswa melakukan pembicaraan dengan pihak keamanan selanjutnya membubarkan diri pada sore hari dan pulang dengan menumpang bus umum.

            Keesokan harinya mahasiswa yang mendatangi gedung DPR/MPR semakin banyak dan lebih dari itu mereka berhasil menginap dan menduduki gedung itu selama beberapa hari. Keberhasilan meduduki gedung DPR/MPR mengundang semakin banyaknya mahasiswa dari luar Jakarta untuk datang dan turut menginap di gedung tersebut. Mereka mau menunjukkan kalau reformasi itu bukan hanya milik Jakarta tapi milik semua orang Indonesia.
         Soeharto akhirnya menyerah pada tuntutan rakyat yang menghendaki dia tidak menjadi Presiden lagi, namun tampaknya tak semudah itu reformasi dimenangkan oleh rakyat Indonesia karena ia meninggalkan kursi kepresidenan dengan menyerahkan secara sepihak tampuk kedaulatan rakyat begitu saja kepada Habiebie. Ini mengundang perdebatan hukum dan penolakan dari masyarakat. Bahkan dengan tegas sebagian besar mahasiswa menyatakan bahwa Habiebie bukan Presiden Indonesia. Mereka tetap bertahan di gedung DPR/MPR sampai akhirnya diserbu oleh tentara dan semua mahasiswa digusur dan diungsikan ke kampus-kampus terdekat. Paling banyak yang menampung mahasiswa pada saat evakuasi tersebut adalah kampus Atma Jaya Jakarta yang terletak di Semanggi.
Read more...

Tragedi Trisakti

0 komentar

Tragedi Trisakti

 Kejatuhan perekonomian Indonesia sejak tahun 1997 membuat pemilihan pemerintahan Indonesia saat itu sangat menentukan bagi pertumbuhan ekonomi bangsa ini supaya dapat keluar dari krisis ekonomi. Pada bulan Maret 1998 MPR saat itu walaupun ditentang oleh mahasiswa dan sebagian masyarakat tetap menetapkan Soeharto sebagai Presiden. Tentu saja ini membuat mahasiswa terpanggil untuk menyelamatkan bangsa ini dari krisis dengan menolak terpilihnya kembali Soeharto sebagai Presiden. Cuma ada jalan demonstrasi supaya suara mereka didengarkan.Demonstrasi digulirkan sejak sebelum Sidang Umum (SU) MPR 1998 diadakan oleh mahasiswa Yogyakarta dan menjelang serta saat diselenggarakan SU MPR 1998 demonstrasi mahasiswa semakin menjadi-jadi di banyak kota di Indonesia termasuk Jakarta, sampai akhirnya berlanjut terus hingga bulan Mei 1998. Insiden besar pertama kali adalah pada tanggal 2 Mei 1998 di depan kampus IKIP Rawamangun Jakarta karena mahasiswa dihadang Brimob dan di Bogor karena mahasiswa non-IPB ditolak masuk ke dalam kampus IPB sehingga bentrok dengan aparat. Saat itu demonstrasi gabungan mahasiswa dari berbagai perguruan tingi di Jakarta merencanakan untuk secara serentak melakukan demonstrasi turun ke jalan di beberapa lokasi sekitar Jabotabek.Namun yang berhasil mencapai ke jalan hanya di Rawamangun dan di Bogor sehingga terjadilah bentrokan yang mengakibatkan puluhan mahasiswa luka dan masuk rumah sakit.

Setelah keadaan semakin panas dan hampir setiap hari ada demonstrasi tampaknya sikap Brimob dan militer semakin keras terhadap mahasiswa apalagi sejak mereka berani turun ke jalan. Pada tanggal 12 Mei 1998 ribuan mahasiswa Trisakti melakukan demonstrasi menolak pemilihan kembali Soeharto sebagai Presinden Indonesia saat itu yang telah terpilih berulang kali sejak awal orde baru. Mereka juga menuntut pemulihan keadaan ekonomi Indonesia yang dilanda krisis sejak tahun 1997.
Mahasiswa bergerak dari Kampus Trisakti di Grogol menuju ke Gedung DPR/MPR di Slipi. Dihadang oleh aparat kepolisian mengharuskan mereka kembali ke kampus dan sore harinya terjadilah penembakan terhadap mahasiswa Trisakti. Penembakan itu berlansung sepanjang sore hari dan mengakibatkan 4 mahasiswa Trisakti meninggal dunia dan puluhan orang lainnya baik mahasiswa dan masyarakat masuk rumah sakit karena terluka.
Sepanjang malam tanggal 12 Mei 1998 hingga pagi hari, masyarakat mengamuk dan melakukan perusakan di daerah Grogol dan terus menyebar hingga ke seluruh kota Jakarta. Mereka kecewa dengan tindakan aparat yang menembak mati mahasiswa. Jakarta geger dan mencekam.
Read more...

Selasa, April 26, 2011

0 komentar
Progresif, Revolusioner, Visioner


Menguatnya rezim Kapitalisme-Imperialisme dalam percaturan politik internasional dan menghegemoninya Neo-liberalisme dalam seluruh lini sektor pembangunan nasional hingga unit-unit terkecil terbukti selain menyebabkan pemiskinan sistemik dan exploitasi sumber daya enerji yang pro Modal-Imperialis, juga menciptakan degradasi nasional yang sistemik akan jiwa, semangat, moralitas, pola pikir dan kebijakan yang terus menjauh dari prinsip nasionalisme-kebangsaan. Tak ada kekuatan perlawanan, bahkan kekuatan nasionalis yang ada telah erpecah dalam fragmentasi pragmatislne politik.
Massifnya budaya individualisme, hedonistik, anti sosial dan semakin melemahnya garis merah nasionalisme Indonesia-Gotong Royong-menggugah bangkitnya kesadaran kebangsaan kaum muda untuk menemukan, menggali, mengkaji dan mengembangkan kembali jati din bangsa, jiwa ibu pertiwi, amanat penderitaan rakyat dan tugas peran sejarah perjuangan kaum muda mahasiswa yang progresif-revolusioner dan visioner-dalam konteks nasionalisme Indonesia. Jalan untuk menemukan identitas itu ditempuh melalui penguatan ideologi dan garis perjuangan dalam konteks nasionalisme lndonesia yang orisinil, dalam bentuk memahami kembali secara komprehensif, holistik dan kritis dari ideologi founding father's bangsa, yakni Sosio Nasionalisme-Sosio Demokratik yang berKetuhanan Maha Esa.
Adanya stagnasi akut yang berkelanjutan dan kemunduran progresif-massif pergerakan kaum muda kekinian dalam membaca, memetakan, mensikapi dan mengaktualisasikan sikap gerak terhadap situasi masyarakat, negara bangsa dan Imperialisme Global ditambah pula melemahnya citra diri, peran dan tugas sejarah, nilai-nilai kejuangan dan kemenangan sistemik hegemoni liberalisme dalam seluruh aktivitas akademik dan sosial nyatanya semakin menciptakan degradasi, demoralisasi bahkan de-ideologisasi terhadap garis sejarah dan peran perjuangan kaum muda mahasiswa dalam kerangka national-interest, negara bangsa dan kemerdekaan bangsa seutuhnya.
Sekarang, diperlukan manifestasi perjuangan politik kaum muda mahasiswa untuk mendobrak tirani neoliberalisme-imperialisme dengan melakukan fullempowering (intellectual, potential, skill and material) dalam aktualisasi gerak sistemik-kolektif dan penguatan kesadaran kemerdekaan melalui advokasi pendidikan rakyat tertindas (marhaenimustadafiin) untuk merebut kekuasaan demi keadilan, kesejahteraan, kedaulatan prjlitik dan kemandirian ekonomi bangsa
Langkah progresif untuk menjawab tantangan besar bangsa dan sekaligus bukti nyata kebertanggungjawaban kaum muda adalah dengan mem bentuk fron/wadah dan jaringan perjuangan nasional kaum muda yang ideologis, sistemik, organisatoris, progresif serta massif. Sistematika kerja politik ini adalah ekspresi langkah maju kaum muda di dalam kerangka tugas mendobrak stagnasi pergerakan kaum muda Indonesia untuk mewujudkan kemerdekaan sejati bangsa.
Pada Hari Rabu, Tanggal 31 Januari 2008, merupakan langkah bersejarah dan kami kaum muda lndonesia untuk mendeklarasikan berdirinya:
GMPI
(GERAKAN MAHASISWA PEMUDA INDONESIA)
Read more...
 
GMPI KORDA SULUT © CopyRight2011 GMPI KORDA SULUT Website Design. oleh Andre Sulung